Selasa, 03 Maret 2009

Kejujuran dalam Doa harus disertai Ikhtiar

Jujur adalah suatu syarat yang sangat penting, baik dalam konteks hablum minannas maupun hablum minallah. Karena itu, doa yang jujur pun sangat penting bagi orang yang berdoa. Kejujuran dalam berdoa akan memposisikan orang yang berdoa pada titik awal yang konkret untuk memulai suatu proses yang sesuai dengan kemampuannya. Dengan demikian, ia bisa membedakan antara harapan dan rencana masa depan.

Saya punya teman yang berencana menikah beberapa bulan lagi. Kepada orang-orang ia utarakan rencananya itu. Namun ketika saya tanya padanya, bagaimana rencana untuk bisa menikah beberapa bulan lagi itu, ia tidak bisa mengutarakan. Siapa jodohnya, atau siapa yang akan dilamarnya, ia bilang sudah ada namun belum tahu apakah si gadis itu mau dengannya atau tidak. Ketika saya tanya usahanya, ia jawab, “Ah, itu sih gampang. Kalau Tuhan menakdirkan, nggak akan meleset dech!” Maka saya bilang padanya, “Kalau begitu, apa yang kamu lakukan itu baru sebatas harapan!” Teman saya hanya tersenyum simpul.

Doa Abu Nawas meminta jodoh

Kadang-kadang ada orang yang merasa perlu sedikit “diplomatis” dalam rangka kepasrahan doa, seperti Abu Nawas berikut ini:

Abu Nawas telah berdoa terus selama berbulan-bulan agar segera mendapatkan istri, namun Tuhan tak juga mempertemukannya dengan gadis yang mau diperistri. Akhirnya doanyapun diubah: “Ya Allah! Kini aku tidak lagi minta untuk diriku. Ya Allah! Kini aku hanya minta untuk ibuku yang sudah tua, bukan untukku. Ya Allah, berikanlah dia menantu!”

Wuih, Abu Nawas ini, Tuhan kok dipolitisir! Bukankah menantu ibunya, ya berarti istrinya. Kayak Tuhan tidak tahu saja! Apa bisa dibenarkan doa seperti itu?

Dilihat isinya, tentu saja tidak ada yang salah dalam doa itu. Memang, mungkin Tuhan lebih kasihan kepada ibunya ketimbang pada Abu Nawas. Tapi sebenarnya yang harus dilakukan oleh Abu Nawas adalah memohon ibunya agar mau mendoakan langsung pada Allah agar ia segera ketemu jodoh. Bukan justru menutupi kepentingannya dengan doa yang seakan-akan menjadi kepentingan ibunya.

Namun, berprasangka baiklah dengan doa seperti itu. Barangkali doa seperti itu justru diterima Tuhan. Bukan karena tingginya pengetahuan orang yang berdoa, melainkan karena kadar “keluguan” alias kejujuran pada isi doa tersebut. Jadi, jangan langsung dicaci-maki dengan berbagai dalil-dalil fiqhiyah yang mengesankan kitalah yang menentukan terkabul atau tidaknya doa manusia. Takutnya, jika orang berdoa itu dipaksa-paksa justru menjadi tidak jujur berdoanya. Pikirannya tidak terfokus lagi pada Tuhan tempat meminta, tapi justru sibuk memikirkan syarat afdhal-nya doa agar diperhatikan orang lain.

Doa Nashruddin tentang jodoh

Pernahkah anda mendengar doa Nashruddin ketika tengah gandrung pada seorang wanita? Begini kira-kira arti bacaannya: “Ya Allah, kalau memang si fulanah itu baik buat saya, ya Allah, maka dekatkan dia kepadaku. Tetapi jika memang menurut-Mu dia tidak baik buatku, tolong sekali lagi tolong, pertimbangkan lagi ya Allah!”

He…he… kurang ajar betul Nashruddin ini. Tapi, tahukah Anda, siapa Nashruddin itu? Jika kita mau berkaca pada wajah kita barangkali tidak mustahil, kalau dia itu sesungguhnya adalah kita sendiri. Bukankah kita juga sering kurang ikhlas atau nrima pada takdir yang diberikan Tuhan?

Bukankah kita sering ingin mendapatkan yang terbaik bagi dunia dan akhirat, namun ketika mendapatkan yang sebaliknya kita jadi tidak sabar dan marah-marah. Padahal Allah sudah memperingatkan sebagaimana firman-Nya:


Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak. (QS. An Nisa[4]: 19)


Memang manusia tidak bisa disalahkan dengan apa yang diketahuinya. Mereka menganggap baik sesuatu yang menarik hatinya, itu tentu tidak salah. Asalkan kemudian tidak melupakan hakikat sebenarnya dari apa yang disukai tersebut. Juga tidak melupakan tujuan hidup yang hendak dicapai. Hingga akhirnya dia bisa pasrah pada apapun kehendak Allah atas dirinya. Bukan hanya soal jodoh, tapi menyangkut segala hal.